Sahabat Mana yang Paling Mulia?
Tanya:
Aku masih penasaran mengenai urutan para sahabat Rasulullah berdasarkan keutamaannya. Siapakah yang lebih utama di antara para sahabat Nabi? Apakah betul bahwa Abu Bakar lebih utama daripada Ali atau sebaliknya? Bagaimana dengan Muawiyah yang memerangi Ali, apakah dia termasuk sahabat juga? Mohon jawabannya ustad.
Jawab:
Kedudukan para Sahabat
Kaum muslimin berbeda pandangan mengenai keutamaan di antara para sahabat r.a. Sekelompok orang berpendapat, “Kami tidak melakukan pengutamaan di antara para sahabat, karena pada dasarnya mereka semua adalah mulia”. Sedangkan mayoritas ulama berpendapat bahwa di antara para Khalifah terdapat keutamaan dibandingkan sebagian yang lain. Lalu mereka berbeda pendapat: Ahli Sunnah berpendapat bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling utama. Golongan al-Khitabiyyah berpendapat bahwa Umar bin Khaththab yang paling utama. Golongan ar-Rawanidiyyah berpendapat bahwa yang paling utama adalah Abbas bin Muthalib, seorang paman Rasulullah. Golongan Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling utama. Ahli Sunnah berpendapat bahwa yang paling utama adalah Abu Bakar kemudian Umar; jumhur ulama berpendapat bahwa urutan setelah Utsman adalah Ali, akan tetapi sebagian Ahli Sunnah dari Kufah mendahulukan Ali atas Utsman.
Akan tetapi, jika kita kembalikan kepada hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan para sahabat r.a., maka kita tidak akan menemukan satupun hadits yang secara jelas menunjukkan keutamaan seorang sahabat atas yang lain. Yang ada bahwa semua sahabat adalah mulia. Jika kita temukan Rasulullah berkata tentang seorang sahabat, ataupun memujinya, atau membenarkan beberapa ijtihadnya di hadapan sahabat yang lain, hal itu bukan menunjukkan keutamaan seorang sahabat atas yang lainnya akan tetapi itu menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat baik interaksinya dengan sahabat-sahabat beliau.
Jika terdapat hadits yang menunjukkan keutamaan sahabat atas sahabat yang lainnya, tentunya para sahabat akan mengakui sendiri hal tersebut. Kemelut pemilihan khalifah di Saqifah Bani Sa’adah setelah wafatnya Rasulullah SAW tentu tidak perlu terjadi. Pada waktu itu, para sahabat menjadikan musyawarah sebagai jalan untuk memilih seorang khalifah pengganti Rasulullah SAW. Begitu pula perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan terkait persoalan khilafah, dan berbagai peristiwa lainnya yang serupa dengan itu. Hal itu menunjukkan tak adanya pengutamaan sahabat di atas sahabat yang lain.

Pintu Masjid Abu Bakar
Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib r.a. juga tidak menyukai pengutamaan atas diri mereka. Umar bin Khaththab melarang pengutamaan dirinya atas Abu Bakar r.a., seperti diriwayatkan dari seseorang yang mengatakan kepada Umar bin Khaththab r.a., “Demi Allah SWT, belum pernah aku temui seorang yang sangat adil, lantang dalam mengatakan yang hak, dan tegas terhadap kaum munafik kecuali engkau wahai Amirul Mukminin. Engkau adalah orang yang paling utama setelah Rasulullah Saw”. Lalu Auf bin Malik berkata, “Kalian telah berdusta. Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui seseorang yang lebih utama daripada Umar yaitu Abu Bakar.” Umar berkata, “Benar apa yang dikatakan Auf dan kalian telah berdusta. Abu Bakar adalah lebih baik daripada harumnya minyak misk, sedangkan aku lebih buruk daripada seekor keledai peliharaan.”
Ali bin Abi Thalib r.a. juga mengingkari pengutamaan sahabat yang satu atas yang lain dan pengutamaan seorang khalifah atas khalifah yang lain. Ketika Ali bin Abi Thalib r.a. mendapatkan informasi bahwa orang-orang telah memuliakan dirinya melebihi Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab, beliau berkata, “Aku mendapatkan kabar bahwa suatu kaum lebih memuliakan diriku daripada Abu Bakar dan Umar, maka barangsiapa yang berkata demikian telah berbohong, maka baginya hukuman atas kebohongan itu”. Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku akan memberikan hukuman cambuk atas kebohongan seseorang yang lebih memuliakan diriku daripada Abu Bakar dan Umar”. Hal ini dapat dibaca dalam kitab al-Mahalli karangan Ibnu Hazm (Ibnu Hazm, al-Mahalli, Beirut: Maktabah at-Tijariyah t.th., Jilid XI, hal 286)
Kedudukan Muawiyah bin Abu Sufyan dalam Deretan Sahabat
“Sahabat” (maksudnya sahabat Rasulullah) dapat didefinisikan bermacam-macam. Di kalangan ahli ushul, setidaknya ada tujuh macam definisi “sahabat” yang beredar. Definisi sahabat yang mendapat kesepakatan paling luas adalah “orang-orang yang bertemu dengan Nabi SAW, mengkhususkan diri menyertai, mengikuti beliau hingga beberapa waktu, sehingga menurut kebiasaan dapat dianggap sebagai sahabat tanpa memberi batasan lamanya pertemanan. Mereka meriwayatkan hadits dari beliau ataupun tidak, belajar dari beliau atau tidak.” Demikian ini adalah pendapat kebanyakan ahli ushul, tapi ada juga yang menambahkan bahwa mereka meninggal dalam keadaan muslim.
Yang dimaksud dengan “mengkhususkan diri menyertai, mengikuti beliau hingga beberapa waktu” adalah orang yang duduk dan selalu berinteraksi dengan Rasulullah SAW sebagaimana seorang sahabat yang selalu bersama sahabatnya. Hal ini ditekankan karena ukuran pertemanan (ash-shubbah) itu terletak pada interaksi.
Sampai saat ini saya tidak melihat bahwa definisi di atas dapat mengeluarkan Muawiyah dari daftar sahabat Nabi SAW. Muawiyah bin Abu Sufyan adalah salah seorang penulis wahyu Rasulullah. Dia sahabat Rasulullah yang ikut berjuang bersamanya setelah dia masuk Islam pascapenaklukan Mekkah. Dia adalah khalifah pertama dari kalangan Bani Umayyah.
Namun demikian, kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Di kalangan Sunni pun terdapat perbedaan pendapat apakah Muawiyah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah. Bagi yang ingin mendalami permasalahan ini, silakan membaca kitab berjudul Ash-Shawaa’iq Al-Muhriqah (Sambaran Petir) karya Ibnu Hajar Al-Haitsany.
Seperti diketahui, permasalahan terkait Muawiyah bermula dari perbedaan pendapat antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan kalangan Bani Umayyah yang sebelumnya dipercaya untuk duduk dalam pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Setelah menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib mengganti hampir seluruh personil dari pemerintahan lama, termasuk memecat Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai gubernur di Syam dan menggantikannya dengan Ibnu Abbas. Ali memerangi Muawiyah karena pembangkangannya dalam sebuah peperangan yang kemudian dikenal dengan nama Perang Shiffin.
Perang tersebut secara kemiliteran dimenangkan oleh pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib. Tetapi, Perang Shiffin justru memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali karena keunggulan berdiplomasi pihak Muawiyah (dipimpin Amru bin Ash) dengan pihak Ali (dipimpin Abu Musa Al Asy’ari) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.
Rusli Hasbi